Rabu, 30 Januari 2019

Ukhwah Islamiyah Merupakan Indikator Ketaqwaan



Kaum muslimin wal muslimat
Pada hari ini tanggal 1 Syawal 1433 H yang lazim kita sebut hari Raya Idul Fitri, segenap kaum muslimin dan muslimat dimanapun mereka berada di muka bumi ini, baik yang berasa di Afrika, Eropa, Amerika dan Australia, demikian pula kita disini, pada pagi ini tengah bersama-sama berkumpul duduk bersimpuh dalam rangka melaksanakan Sholat Idul Fitri tahun 1433 H, setelah kita dan seluruh umat Islam diseluruh dunia kembali dari medan juang melawan hawa nafsu dengan berpuasa selama satu bulan.
Di hari yang penuh keberkahan seperti sekarang ini, hati kita sangat lapang dan penuh dengan kenikmatan. Kita semua merasa puas dan gembira, karena telah menunaikan salah satu perintah Allah dan sekaligus dapat berkumpul dengan sanak keluarga yang tercinta serta kerabat dan handai taulan. Namun demikian ada juga diantara kita yang pada hari ini diliputi perasaan keharuan, mengenang orang tua, sanak saudara dan handai taulan yang telah mendahuluinya untuk menghadap Illahi.
Pada hari ini juga hati kita penuh dengan kasih sayang dan rasa maaf, jauh dari pikiran-pikiran jahat dan sombong.
Kuncup-kuncup kerukunan dan kedamaian, kepekaan-kepekaan untuk berafiliasi dengan sesama manusia, pada hari ini mekar selebar-lebarnya berkat sepuhan batin selama bulan Ramadhan yang baru saja kita lalui.
Aalahu akbar 3x walillahilhamdu
Dalam suasana idul fitri seperti ini, sudah sepantasnya kita mensyukuri segala nikmat allah, khusus dengan kembalinya kita kepada fitrah yang asli dan murni sesuai dengan awal diciptakannya manusia. Sebagaimana firman Allah dalam al Qur’an :
“Sungguh, kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ( QS At Tiin : 4)
Kesempurnaan bentuk ini, memberikan gambaran kepada kita bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pilihan Allah SWT. Manusia pilihan adalah manusia yang selalu mampu menjalin persaudaraan dengan sesamanya khususnya umat Islam. Karena sesungguhnya hal ini telah menjadi perhatian Rasulullah Muhammad SAW yaitu persaudaraan yang menghapus “keakuan” sehingga setiap orang akan bergerak dengan semangat dan jiwa kemasyarakatan serta akan bekerja untuk kemaslahatan dan cita-cita masyarakat. Tidak akan ada lagi orang yang memandang dirinya terpisah dari masyarakat dan bisa hidup tanpa masyarakat.
Kaum muslimin dan muslimat rohimakumullah
Adanya persaudaraan seperti ini, lenyaplah fanatisme kesukuan dan tak ada semangat pengabdian selain kepada Allah. Runtuhlan semua bentuk perbedaan yang didasarkan pada asal usul keturunan, warna kulit serta asal usul kedaerahan. Maju dan mudurnya seseorang tergantung kepada kepribadiannya sendiri dan ketaqwaannya kepada Allah SWT sesuai sasaran akhir ibadah puasa.
Aalahu akbar 3x walillahilhamdu
Rasulullah SAW telah berhasil membina hubungan persaudaraan diantara sesama kaum muslimin dan muslimat ketika itu, sebagai ikatan perjanjian yang nyata dalam praktek, bukan hanya sekedar ucapan yang tidak berarti, praktek yang benar-benar mengikat serta mempersatukan nyawa dan harta. Perasaan mngutamakan kepentingan bersama dan suka duka bersama sungguh-sungguh bersenyawa dengan semangat persaudaraan,sehingga masyarakat yang baru terbentuk itu penuh dengan keteladanan yang mulia.
Kaum muslimin dan muslimat rohimakumullah
Kaum Anshor ketika itu sungguh menghargai dan sangat hormat kepada saudara-saudaranya kaum Muhajirin. Setiap muslimin yang hijrah ke Madinah dan menumpang atau datang kerumah keluarga seornag Anshor, dia pasti diterima dengan baik dan diberi sebagian dari harta kekayaannya. Sebaliknya kaum Muhajirin sangat menghargai keikhlasan budi kaum anshor, akan tetapi mereka tidak mau mnggunakan hal itu sabagai suatu kesempatan untuk kepentingan yang tidak pada tempatnya. Mereka hanya mau menerima bantuan dari kaum Ansor sesuai dengan jerih payah yang mereka curahkan di dalam suatu pekerjaan.
Aalahu akbar 3x walillahilhamdu
Kaum muslimin dan muslimat rohimakumullah
Pada masa itu Rasulullah SAW ibarat kakak tua bagi orang beriman, beliau sama sekali tidak mengistimewakan diri dengan gelar kebesaran atau kemuliaan apapun. Bahkan beliau bersabda :
“Sekiranya aku mengangkat seorang kholil (saudara terdekat) dari umatku, tentu telah aku mengangkat Abu Bakar sebagai kholil, tetapi persaudaraan Islam yang lebih afdhol”.
Persaudaraan sejati tidak mungkin tumbuh dalam suatu lingkungan yang mutu ketaqwaannya rendah. Dalam suatu masyarakat yang masih dikuasai oleh kebodohan, kemerosotan akhlak dan kekejaman serta penuh dengan manusia-manusia pengecut dan kikir, tidak mungkin terdapat persaudaraan sejati di antara sesama anggotanya, dan rasa kasih sayang tidak akan tumbuh dengan subur. Seandai sahabat nabi bukan manusia-manusia yang memiliki perangai luhur, mungkin dunia kita ini tidak akan pernah mencatat adanya persaudaraan sejati yang demikian erat, yaitu persaudaraan demi Allah semata-mata.
Oleh karena itu, beliau mencerminkan puncak tertinggi kesempurnaan yang dapat dicapai oleh manusia lainnya. Tidaklah mengherankan, jika manusia-manusia lain yang berteladan kepada beliau, dan hidup disekitar beliau, menjadi manusia-manusia yang memiliki sifat-sifat gemar menolong orang lain dan setia tepat janji.
Aalahu akbar 3x walillahilhamdu
Sementara itu rasulullah bersabda :
“Dimana saja ada orang yang dibiarkan kelaparan oleh penduduk satu kampung, maka sesungguhnya telah terlepaslah tanggungan Allah atas mereka itu”.
Dan selanjutnya beliau bersabda : “Barang siapa yang mempunyai makanan untuk dua orang, maka hendaklah ia memakannya dengan orang ketiga …. Dan bila ia memiliki makanan cukup untuk empat orang, maka hendaklah ia makan berlima atau berenam (mutafaqun alaihi)”.
Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa umat Islam adalah satu jasad, merasakan dengan perasaan yang satu, dan apabila ada yang terkena musibah, maka seluruh anggota lainnya ikut merasakan pula. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
Perumpamaan seorang mukmin dalam kasih-mengasihi, sayang-menyayangi dan cinta-mencintai bagikan satu tubuh, apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dan demam dan tidak bisa tidur. Demikian pula dalam hadist lain Rasul bersabda :
Orang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat satu bangunan satu sama lain saling memperkokoh. Kondisi seperti telah digambarkan tadi, akan dapat terwujud dengan baik di masyarakat kita, manakala puasa dan zakat fitrah ditunaikan dengan baik, dalam artian sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya.
Karena dengan puasa, kita dapat merasakan sakitnya penderitaan orang lain yang hari demi hari tidak menemukan makan.
Demikian pula halnya dengan zakat, zakat diwajibkan kepada setiap hamba Allah yang beriman dan mampu, dengan tujuan mensucikan diri dari makanan dan minuman yang dinikmati sepanjang tahun, dan juga bertujuan untuk memberikan sebagian harta yang kita miliki kepada orang lain yang membutuhkannya. Dengan demikian insya Allah kita dapat kembali kepada fitrah manusia yang sesungguhnya.
Aalahu akbar 3x walillahilhamdu
Kaum muslimin dan muslimat rohimakumullah
Demikianlah khutbah singkat ini saya sampaikan, dan mari kita akhiri dengan sama-sama memanjatkan do’a ke hadirat Allah SWT agar harapan untuk menjadi manusia yang bertaqwa dapat digapai
Ya Allah, semoga sholawat dan salam terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, para sahabatnya serta kepada para penerus risalahnya.
Ya Allah di hari yang fitri ini, limpahkanlah kebahagiaan kepada setiap hamba- Mu yang ada ditempat ini dan dimana saja mereka mengikuti sunah Nabi-Mu, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami , dosa guru-guru kami, dosa para pendahulu kami. Dan masukkanlah kami kedalam golongan umat-umat yang berbuat baik.
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, berikanlah kepada kami kemudahan dalam melaksanakan ketaatan kepada-Mu, mengikuti yang hak dan membenci yang batil.
Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya serta tunjukksn kepada kami bahwa yang salah adalah salah serta berikan kami kekuatan untuk meninggalkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar