Rabu, 30 Januari 2019

Membangun Keshalihan Diri dan Sosial

Maret 18, 2016 

الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله اكبر الله اكبر الله اكبر, الله اكبر الله اكبر الله اكبر,الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله هكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده. لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
ألحمد لله ذى العز والجبروت مالك الملك والملكوت ألذى سبحة الألسنة اليوم لوحدا نيته فى المسجد والطرقات والبيوت. أشهد ان لا إله إلاالله وحه لا شريكلة وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. أللهم فصل وسلم وبا رك على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه أجمعين . أما بعد فيا أيها المسلمون رحمكم الله أوصيكم ونفسي بتقوى الله وطا عطه لعلكم تفلحون, واعلموا أن الجنة أعدت للمتقين.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd
Ma’asyirol muslimin wal muslimat rahimakumullah

Tiada putus lisan kita memuji dan mengagungkan kebesaran Allah Robbul ‘izzati, penguasa alam raya yang telah memberikan berbagai macam ni’mat kepada kita, sehingga sampai detik ini kita masih dapat menikmati cahaya matahari-Nya yang hangat, kita masih dapat beranjak dari peraduan kita menuju tempat sholat dan bermunajat mengharu biru keharibaan-Nya. Tiada kata yang dapat menggambarkan seutuhnya ke-Maha Sempurnaan Allah ta’ala. Bahkan seandainya seluruh lautan di persada bumi ini dijadikan tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah, niscaya lautan itu akan habis, sedangkan kalimat-kalimat Allah itu belum jua usai dituliskan.
قَلْ لَوْكَانَ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّىْ لَنَفِدَ اْلبَحْرَ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِماَتِ رَبِّىْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Katakanlah, jika sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula (QS. Al-Kahfi (18) :109)

Sholawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Rosulullah SAW., insan mulia, teladan bagi kita semua. Beliau adalah al-Amin, yang keagungan budi pekertinya mampu melunakan hati sekeras batu, kesederhanaan hidupnya menjadi kekuatan besar untuk membina masayarakat madani, kejujuran dan budi bahasa yang santun adalah bagian hidup keseharian yang mempesonakan, semoga sholat dan dan salam tercurahkan pula kepada keluarga, sahabat dan para pengikut beliau hingga akhir masa.

Allahu Akbar, Allahu Akbar ,Allahu Akbar wa lillahil hamd
Ma’asyiral muslimin rohimakumullah,

Kumandang takbir mengalun dalam kesyahduan, menandai tibanya hari yang diagungkan, hari raya ‘idul fitri, hari kembali kepada kesucian diri, hari kemenangan atas ujian dan cobaan yang telah dilalui oleh setiap muslim dengan ibadah shaum selama satu bulan lamanya, yang dilakukan atas dasar iman dan taqwa kepada Allah swt., yaitu al-imanu billah
Iman kepada Allah. Bahwa tiada tuhan yang pantas dan berhak untuk disembah, melainkan Dia-lah Allah, dzat Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa, yang telah menciptakan seluruh alam raya beserta seisinya.

Takbir yang terucap dari dalam bathin kita adalah ungkapan pengakuan jujur dari seorang hamba, bahwa Allah Yang Maha Segalanya, Dia Maha Sempurna dan tak satupun di alam ini yang serupa dengan-Nya, sebagaimana Allah swt telah menegaskan dalam firman-Nya
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلبَصِيْرُ
Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syuura (42) :11)

Takbir yang kita kumandangkan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan akan menggetarkan hati orang-orang yang ingkar kepada Allah, memporak porandakan jaring jemaring muslihat dan tipu daya syaithon laknatullah, yang hendak memasung kemerdekaan sejati manusia, yaitu bebas dari penghambaan kerpada sesama makhluk menuju kepada penghambaan kepada Allah semata. Kumandang takbir ini pula yang telah menggerakkan para mujahid fi sabilillah di belahan bumi manapun dalam setiap episode perjuanagan melawan kebathilan, dulu hingga sekarang. Sungguh kekuatan imanlah yang mampu menjadikan segelintir pasukan Thalut mampu menghadapi pasukan Jalut yang besar. Kekuatan iman pula yang menjadi penentu kemenangan ummat islam dalam Perang Badar, meskipun ummat yang berada di bawah komando Rosulullah saw hanya berjumlah 300 orang melawan 1000 kekuatan kafir dan musyrikin dengan persenjataan lengkap
كَمْ مِنْ فِـئَةٍ غَلَبَتْ فِـئَةً كَـثِيـْرَةً بِـإِذْ نِ اللهِ وَالله ُمَعَ الصَّا بِـرِيْنَ
“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. al-Baqoroh (2) : 249)


Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah
Sejak terbenamnya matahari akhir Ramadhan kemarin, gema takbir berkumandang dari pelosok-pelosok desa hingga kota–kota metropolitan, masjid-masjid dan musholla-musholla, jalan-jalan raya bahkan dari balik tembok-tembok rumah sakit.
Pagi hari ini, ada saudara-saudara kita yang tengah terbaring di rumah-rumah sakit, mereka bertakbir,mengagungkan asma Allah diiringi linangan air mata,dirundung duka yang tiada berkesudahan, Allahu Akbar, adapula janda-janda tua dan anak-anak yatim yang tiada berbapak, dengan pakaian yang apa adanya, diiringi pandangan sedih dan duka, melihat teman sebaya berdampingan dengan ayah dan bunda, merekapun bertakbir, membesarkan asma Allah, Allahu Akbar...
Disisi lain, ada saudara-saudara kita, yang karena ketiadaan ekonomi, mereka tidak dapat berkumpul dengan orang tua,sanak famili dan handai taulan di kampung halaman, diiringi dengan kesedihan karena mereka berjauhan dari keluarga, merekapun bertakbir, Allahu Akbar. Saat kalimat-kalimat takbir kita kumandangkan, terbayang dalam benak pikiran dan ingatan kita, orang-orang terkasih, ayah, ibu dan sanak famili, jika mereka masih berada disisi kita, maka kita dapat mencium tangannya, memeluk tubuhnya dan membasuh air mata mereka, namun ada diantara kita yang sudah tiada berayah dan beribu, kita tidak dapat lagi mencium tangan mereka dan memeluk tubuh mereka, dada kita bergemuruh ,pipi kita basah dengan air mata, Suasana semacam inilah yang menambah haru biru suasana ‘idul fitri tahun ini

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd
Ma’asyirol musliomin romimakumullah,saudaraku seiman dalam islam yang dirahmati Allah
Saat ini kita benar-benar merasakan ni’mat Allah yang amat sangat luar biasa, ni’mat karena telah usai menunaikan kewajiban berpuasa,nikmat berhari raya ‘idul fitri, ni’mat berkumpul bersama saudara sesama muslim dalam naungan ridho dan maghfirohNya, ni’mat menanti janji Allah pada saat perjumpaan kelak di yaumil qiyamah, sebagaimana nabi sabdakan :
لِلصَّا ئِمِـيْنَ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ اْلفِطْرِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّـهِ
“Bagi orang-orang yang berpuasa itu akan ada dua kenikmatan,kenikmatan saat berbuka puasa dan saat berjumpa dengan Allah kelak.” (HR. Imam Bukhori)

Ni’mat dan anugrah Allah yang diberikan kepada manusia itu sangat luar biasa, sehingga tak seorangpun mampu menghitungnya
وَإِنْ تَعُدُّوْا نِـعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا إِنَّ اْلإ ِنْسَانَ لَظُلُوْمٌ كَـفَّارٌ
“Jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah,pasti kalian tak akan mampu menghitungnya. Sungguh manusia itu banyak yang berlaku aniaya dan kufur nikmat”. (QS. Ibrahim :34)
Karena demikian banyak nikmat dan pemberian Allah kepada manusia, seringkali manusia lupa diri dan tidak mau bersyukur, bahkan tidak sedikit dari mereka yang kufur nikmat, na’udzu billah.
وإذا أنعمنا على الإنسان أعرض ونأ بجا نبه وإذا مسه الشر كان يئوسا
“Jika Kami berikan ni’mat kepada manusia, maka mereka berpaling dan menjauh dari Allah swt, namun jika sedikit saja diberikan penderitaan oleh Allah,mereka berputus asa” ( QS.
Pengakuan bahwa Allah itu Maha Pemberi nikmat dan rahmat merupakan pangkal pembinaan iman yang mengantarkan seseorang rela untuk berkurban. Berapa banyak orang yang kaya harta, tetapi ia tidak mengakui bahwa hartanya itu merupakan pemberian Allah swt, dzat Yang Maha Kaya, berapa banyak penguasa yang kaya raya, namun tidak sedikitpun terbetik dalam sanubari mereka, bahwa kekayaan dan kekuasaan itu hakikatnya merupakan amanat yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah swt, berapa banyak konglomerat yang bergelimang dengan kemewahan, namun sedikit sekali dari mereka yang menyadari bahwa kenikmatan tersebut merupakan bagian dari ujian dan cobaan dari Allah swt.
Harta, kekayaan,kemewahan, kegagahan dan kekuasaan oleh sebahagian orang dianggap “segala-galanya” dalam hidup yang fana ini, sehingga ada diantara mereka yang menghalalkan segala cara dalam memperolehnya, bahkan ada di antara mereka yang menuhankan harta, jabatan dan kekuasaan. Seluruh aktivitas hidupnya dihabiskan untuk memperoleh dan memuaskan hawa nafsunya, tanpa sedikitpun waktunya untuk Allah swt.
Jika hawa nafsu telah menjadi tuhan dalam diri manusia, maka keengganan untuk mensyukuri segala nikmat Allah menjadi dominan dalam pola dan gaya hidupnya. Bila rasa syukur telah tercerabut dari diri manusia, maka sifat rakus, serakah dan pongah, korupsi, menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi dan golongan pasti akan mewarnai setiap gerak dan langkah orang tersebut.

Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd
Ma’asyirol muslimin rohimakumullah,
Kita mengumandangkan kalimat takbir, Allahu Akbar..., sebagai pernytaan syukur yang teramat tulus keharibaan Allah swt, atas segala petunjuk dan hidayah-Nya yang telah diberikan kepada kita, sehingga kita mau dan mampu melaksanakan ibadah shaum selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan yang baru saja berlalu dari kehidupan kita.
وَلِتُكْـمِلُوا اْلعِـدَّةَ وَلِتُكَـبِّرُوا الله َعَلَى مَا هَداكُـمْ وَلَعَلَّكُـمْ تَشْكُـرُوْنَ
“Dan hendaknya kalian sempurnakan bilangan hari berpuasa, kemudian hendaknya kalian kumandangkan takbir, mengagungkan Allah adat hidayah yang telah dikaruniakan kepadamu, dan hendaknya kalian bersyukur” (QS. al-Baqoroh (2) : 185)
Jama’ah rohimakumullah, mengapa kita bersyukur dengan mengumandangkan kalimat thoyyibah, takbir, tasbih, tahmid dan tahlil atas hiadayah dan karunia Allah swt ?, karena ibadah shaum Ramadhan merupakan “ bulan pendidikan kolosal bertaraf internasional”, yang berorientasi pada pensucian dan pencerdsan intelektualitas, emosionalitas dan spiritualitas dalam tiap diri pelaku ibadah shaum tersebut. Dengan aktivitas ibadah di bulan Ramadhan, manusia berusaha dengan penuh kesadaran untuk membersihkan dan mensucikan diri dari sifat-sifat hayawaniyah dan syaithoniyah, yaitu : egois, individualis, bakhil, congkak, angkuh dan sombong serta otoriter, sehingga ibadah Ramadhan membuahkan suatu hasil yang sangat bermanfaat tidak hanya bagi diri pelaku ibadah Ramadhan saja tetapi juga terhadap lingkungan sekitarnya, yaitu akhlakiyah Ramadhan yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan banyak mengaji dan mengkaji al-qur’an serta berbagai ajaran islam, diharapkan manusia dapat menambah kecerdasan intelegensinya. Melatih diri untuk banyak bersabar, berempati, rendah hati dan qonaah (merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah), diharapkan dapat mempertajam kecerdasan emosionalnya. Khusyu dalam berdzikir, berdoa, beri’tikaf, berzakat dan bershodaqoh serta bersilaturrahmi, diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan spiritual dan sosial.
Maka saat ini, setelah kita melampaui pendidikan di bulan Ramadhan, kita benar-benar kembali kepada fitrah yang suci. Karena itu dengan berbekal nilai-nilai Rabbaniyah yang kita peroleh melalui penempaan dirl selama bulan Ramadhan, seyogyanya kita benar-benar kembali kepada jati diri kita yang sebenarnya, yaitu makhluk sosial yang bermoral luhur dengan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan. Menjadi manusia fitri berarti harus siap dan sanggup untuk mengenali, memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai rabbani (ketuhanan) dan insani (kemanusiaan) dalam dirinya ke dalam pola hidup yang cerdas.
Manusia fitri idealnya memiliki lima kecerdasan, yaitu : intelektual, emosional, interpersonal, spiritual dan sosial. Dengan kecerdasan intelektual, kita mendayagunakan akal pikiran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemudahan dan kemaslahatan hidup orang banyak. Dengan kecerdasan emosi, kita belajar untuk hidup santun, sabar, penuh empati, tekun dan penuh pengharapan demi meraih prestasi yang luhur dan mulia. Dengan kecerdasan interpersonal, kita belajar hidup bersama ( life together) dengan penuh toleran, sikap damai dan anti kekerasan. Dengan kecerdasan spiritual kita memulai ibadah ritual dan berdzikir, menuju pencapaian makna hidup dan kebahagiaan yang hakiki. Dengan kecerdasan sosial, diharapkan kita dapat membina hubungan yang harmonis, silaturrahmi produktif dan reformatif, prilaku sosial yang kondusif, memnbangun persaingan yang kompetitif dan dapat menjalin hubungan kerja yang berlandaskan ukhuwah islamiyah serta berperikehidupan yang normatif (transparan, jujur dan bertanggung jawab)

Allahu Akbar,Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd
Hadirin yang kami hormati,

Tanpa kita sadari, dalam hidup ini kita seringkali kehilangan fitrah, fitrah yang kita bawa sejak lahir mengalami proses pengkaratan, pelapukan bahkan pembusukan, hal ini diakibatkan oleh dosa yang kita perbuat. Fitrah yang seharusnya memandu arah kehidupan kita, seolah menjadi sirna karena terbawa oleh nafsu dan godaan syaithan. Kita menyimpang dan tergelincir dari jalan kehidupan yang lurus, jalan iman dan taqwa. Dengan petunjuk yang diberikan Allah swt, kita diberikan kesempatan sebulan penuh untuk menjalani proses pembersihan diri dan jiwa. Sifat-sifat negatif dari an-nafs al hayawaniyah (nafsu kebinatangan) yang ada pada diri kita, seperti rakus, egois, buas, kejam, hasud, aniaya, serakah kita kendalikan sedemikian rupa melalui puasa, sehingga al-nafs al nathiqoh (jiwa kemanusiaan) kita tumbuh dan berkembang menghiasi jalan kehidupan kita.
Jadi, pendidikan Ramadhan yang baru saja kita jalani tidak lain adalah proses pembinaan dan pembebasan diri dari penjara al nafs al hayawaniyah menuju kemerdekaan al nafs al insaniyah atau al nafs al nathiqoh yang suci. Dengan mengendalikan jiwa/nafsu itulah maka nfs nathiqoh kita dapat menggapai derajat taqwa. Dengan demikian, ‘Idul Fitri merupakan “wisuda massal internasional” atas kemenangan dan keberhasilan kita meraih jati diri yang fitri melalui pensucian jiwa insani. Hanya saja, seberapa besar predikat dan kualitas taqwa yang telah kita raih, hanya Allah dan diri kita sajalah yang tahu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd
Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati,

Predikat taqwa hendaknya tidak kita sandang setahun sekali saja, ketika kita berada di ‘idul fitri, taqwa adalah pakaian abadi kita, taqwa adalah bekal hidup dan kepribadian kita
وَلِبَا سُ التَّـقْوَى ذاَلِكَ خَيْرٌ
“Pakaian taqwa itulah yang terbaik” (QS. Al-A’raf : 26)

Oleh karena itu predikat taqwa yang kita sandang ini perlu ada tindak lanjutnya. Jika selama puasa Ramadhan kita melakukan internalisasi nilai-nilai Rabbani, maka di bulan Syawwal ( yang artinya peningkatan) dan seterusnya sepatutnya kita melakukan aktualisasi diri. Jika Ramadhan merupakan pendidikan moral dan mental spiritual, maka Syawwal dan bulan bulan seterusnya merupakan wahana bagi aksi moral dan sosial. Jika di bulan Ramadhan seorang pejabat muslim mampu menahan diri dari tindak korupsi, maka sebelas bulan kemudian yang bersangkutan seharusnya tidak lagi korupsi, bahkan idealnya harus berani membersihkan birokrasi dan jajarannya dari korupsi.

Singkatnya, mulai hari wisuda nan fitri ini kita harus secara terus menerus melakukan reformasi iman dengan menajamkan kepekaan nurani kita terhadap pemahaman dan penghayatan ajaran agama kita. Tidak hanya dzikir qauli (dzikir verbal) melainkan juga harus diiringi dengan dzikir aqli dan dzikir amali (dzikir intelektual dan dzikir aksi). Ketika misalnya kita mendengar berita duka dari kerabat atau kawan dekat, kita tidak cukup hanya menggerakan lisan dengan ucapan “innaa lillaahi wa innaa ilahi rooji’un”, pada saat yang sama seyogyanya kita melakukan introspeksi sambil merenung : “sudahkah kita mempersiapkan diri untuk dipanggil menemui-Nya, kapan saja dan dimana saja ?”. Apa yang sudah kita lakukan selama ini, sudahkah kita berada dalam al shiroth al mustaqiim, jalan yang lurus dan benar,atau justru sebaliknya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, allahu akbar wa lillahil hamd
Jama’ah ‘idul fitri yang dirahmati Allah,

Kita juga dituntut untuk mampu memperlihatkan dengan nyata fitrah kita, kesucian asal kita, wujud azali dan eksistensi primordial kita yang suci, bersih dan penuh kebajikan. Mulai hari ini pula kita hendaknya mampu menindaklanjuti kedekatan vertical kita dengan kedekatan horizontal dalam bentuk amal shaleh. Itulah makna kembali ke fitrah dalam dimensi sosial, yaitu makna dan semangat ucapan salam dalam mengakhiri shalat. Jika pada akhir shalat kita diperintahkan menoleh ke kanan dan ke kiri, maka pada hari raya fitri ini kita diwajibkan memperhatikan kemiskinan ekonomi dan sosial di sekitar kita, di kiri dan kanan kita,tetangga kita dan kaum mstadh’afin yang dekat dengan kita. Kita diwajibkan berpartisipasi, ambil bagian dalam mengentaskan kemiskinan dan penderitaan yang dialami oleh saudara-sauradara kita melalui zakat fitrah

“Siapa yang memiliki kekuatan, berbuatlah dengan kekuatan yang dimilikinya, barang siapa yang memiliki harta, berbuatlah dengan hartanya itu, barang siapa diberi ilmu oleh Allah, berbuatlah dengan ilmunya itu dan barang siapa yang lemah,dho’if, tidak punya apa-apa, maka berbuatlah dengan doa” (HR. Imam Buchory). Tujuan zakat fitrah tidak sekedar membersihkan diri kita dari harta yang merupakan milik orang lain, melainkan mengingatkan kita agar terus menerus berjuang menegakan keadilan sosial. Zakat fitrah yang kita bagikan kepada yang berhak ketika mengakhiri ibadah puasa ini juga mengingatkan kita semua, bahwa ibadah kepada Allah harus melahirkan sikap prilaku kemanusiaan. Tauhid individual tidak akan pernah berarti bagi kehidupan kita tanpa dibarengi dengan tauhid sosial, tauhidul ibadah baru akan melahirkan masyarakat yang aman, harmonis, adil dan sejahtera jika ditindaklanjuti dengan tauhidul ummah (penyatuan umat, bangsa dan masyarakat).
Oleh sebab itu, jika kita menyatakan telah beragama, dalam arti telah beriman dan beribadah, namun lalai, enggan dan mengabaikan kewajiban menegakan keadilan sosial dengan tidak memperhatikan dan memberdayakan kaum miskin, maka Allah swt mengecam kita sebagai “pendusta agama”, bohong dalamberiman dan palsu dalam beribadah, sebagaimana firman-Nya :
أَرَءَيْتَ الَّذِى يُكَـذِّبُ بِالِّديْنِ فَذَالِكَ الَّذِىْ يَدُعُّ اْليَتِيْمَ وَلاَ يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ اْلِمسْكِـيْنِ فَوَيْلٌ لِّْلمُصَلِّيْنَ أَلَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَ تِهِمْ سَاهُوْنَ ألَّذِيْنَ هُمْ يُرَاءُوْنَ وَيَمْنَعُـوْنَ الْمَاعُـوْن
“Tahukah kamu (hai Muhammad), siapakah para pendusta agama ?, Pendusta agama adalah orang yang mengabaikan nasib anak yatim dan yang tidak dengan tegas membela nasib orang miskin. Maka celakalah mereka yang melaksanakan shalat, yaitu mereka yang melupakan/lalai dari sholat mereka, mereka suka pamrih dan enggan memberi pertolongan (QS.Al-Ma’un : 1 – 7)

Hadirin yang berbahagia,
Jati diri muttaqin yang fitri adalah kebenaran, keadilan dan keberpihakan kepada masyarakat yang lemah dan termarginalkan. Orang bertaqwa yang dikehendaki oleh surat al-Ma’un tersebut adalah, orang yang taat beragama sekaligus dinamis berjuang membela kebenaran dan menegakan keadilan sosial. Oleh karena itu, islam yang yang kita anut bukanlah semata-mata agama doktrin dan ibadah ritual, melainkan agama yang sangat menekankan gerakan keadilan dan amal sosial. Nabi Muhammad saw, teladan kita semua, adalah orang yang paling dekat dan sayang terhadap anak yatim juga paling perhatian kepada fakir miskin. Suatu ketika beliau melihat seorang anak kecil menangis di salah satu sudut lapangandi hari raya ‘idul fitri , di tempat akan diadakannya sholat idul fitri, lalu beliau menghampirinya dan bertanya, : “nak, mengapa engkau menangis , dimana rumahmu dan siapakah ayahmu ?”. Si anak kecil itupun hanya menggelengkan kepala sambil berkata terbata-bata : “tuan, orang tua saya sudah tiada, rumahpun saya tak punya”. Melihat roman si anak yatim yang sedih itu, beliau dengan penuh kasih sayang lalu mengusap kepala anak yatim tersebut, lalu berkata : “ nak, maukah engkau seandainya Muhammad sebagai ayahmu, Siti ‘Aisyah sebagai ibumu dan rumah Muhammad sebagai tempat tinggalmu ?. Maka kontan, wajah sedih dan duka yang tadi menyelimuti anak yatim itu berubah menjadi ceria dan gembira seperti layaknya anak-anak sebaya lainnya.
Demikianlah teladan dan aksi nyata yang sangat indah yang telah dicontohkan baginda Rosul saw. Nabi menyampaikan petunjuk-petunjuk islam dengan teladan dan perdamaian. Sebagai agama kebenaran dan keadilan islam hadir dengan membawa rahmat, ajaran kasih sayang dan perdamaian abadi. Karena itu salah satu identitas universal kita adalah salam, yaitu ucapan “assalaamu ‘alaikum warohmatullaahi wa barokaatuhu”, identitas dan doa yang menghendaki agar setiap muslim selalu cinta dan berprilaku damai, anti kekeasan. Seiring dengan ajaran salam tersebut, pada hari raya ‘idul fitri ini, kita umat islam juga diperintahkan untuk melakukan silaturrahmi (menyambung dan mempererat tali persaudaraan) sambil saling berma’af-ma’afan. Sungguh luar biasa indah ajaran islam ini. Disaat menyadari dan kembali ke asal kejadian kita yang fitri, kita diingatkan pentingnya berkomunikasi sosial dan bermitra horozontal dengan sesama. Silaturrahmi memang merupakan manifestasi dan langkah awal menuju tegaknya keadilan sosial.
Dalam silaturrahmi, kita tidak hanya berusaha merajut kembali tali kekerabatan dan kekeluargaan, melainkan juga kita dituntut melakukan shilaatul qolb (kontak/komunikasi hati), merasa senasib sepenanggungan, merasa bahwa kita satu keluarga besar Indonesia, satu sama lain adalah sahabat dan mitra. Setelah itu kitapun perlu mewujudkan shillatul fikr (kontak/komunikasi pemikiran), menyatukan visi, memikirkan secara bersama-sama agenda ke depan , merancang hari esok yang lebih baik dan penuh harapan. Selanjutnya kita juga perlu mengembangkan shilaatul ‘amal (karya bersama, kerja kolektif, gerakan sosial), bukan kerja sendiri-sendiri, merancang masa depan bersama secara lebih baik dan lebih maju. Dengan shillatul ‘amal misalnya kita dapat berkomitmen untuk memerangi dan mengikis budaya korupsi, kolusi, nepotisme dan premanisme. Dengan demikian kita akan merasakan kedamaian, ketentraman, kebersamaan dalam hidup berbangsa dan bernegara di negeri Indonesia tercinta ini.
Melalui ibadah shaum yang baru saja usai kita lakukan, hendaknya kita tanamkan rasa kepedulian kepada sesama. Mereka yang dhu’afa banyak tersebar di tengah-tengah masyarakat kita atau berserakan di banyak penjuru negeri ini, namun terkadang terlupakan. Mereka jarang dipedulikan sehingga menjadi sasaran pemurtadan dan pendangkalan aqidah. Namun perlu diingat pula, kepedulian sosial terhadap mereka yang dhu’afa tidaklah bersifat seremonial belaka, tidak pula muncul sekejap dalam bingkai hari raya, tetapi kepedulian terhadap mereka hendaknya menjadi agenda harian setiap muslim yang mampu. Dia adalah sebentuk perjuangan dalam menegakkan kalimatullah di bumi ini sekaligus membentengi kemuliaan islam dan kehormatan kaum muslimin.

Hadirin yang berbahagia

Kini, dikesempatan yang mulia ini, marilah kita berdo’a dan bermunajat kepada Allah swt, agar ummat ini menjadi umat terbaik, mampu bangkit dari keterpurukan dan kemunduran. Dan semoga Allah membukakan hati kita dan para pemimpin bangsa ini agar mendapat taufik dan hidayah-Nya, sehingga selamat dunia dan akhirat

ألحمد لله رب العلمين, اللهم صل وسلم وكرم وعظم وشرف على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد
أللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات ويا قاضي الحاجات برحمتك يا أرحم الرا حمين
أللهم ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفرلنا وترحمنا لنكونن من الخا سرين
ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أوأخطأ نا ربنا ولا تحمل علينا إصرا كما حملته على الذين من قبلنا ربنا ولا تحمّلنا ما لا طاقة لنابه واعف عنا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القومالكـافرين
ربنا تقبل منا صلاتنا وصيامنا وزكاتنا وقيا منا وركوعنا وسجودنا وتلاوتنا وتضر عنا وتخشعنا وكل عبادتنا وأعمالنا وتَمّم تقصرنا يا الله إنك أنت السميع العليم وتب علينا يامولانا إنك أنت التواب الرحيم
أللهم إنا نسألك حسن الخاتمة ونعوذبك من سوء العاقبة وشر الخاتمة أللهم أصلح لنا ديننا الذى هو عصمة أمرنا وأصلح لنا دنيانا التى فيها معاشنا وأصلح لنا أخرتنا التى إليها معادنا واجعل الحياة زيادة لنا فى كل خير واجعل الموت راحة لنا من كل شر برحمتك يا أرحم الراحمين
أللهم أصلح الرّاعيَ والرّعـيَّةَ, واجعل بَلدتنا هذه وسائرّ بُلدان المسلمين رَخِـيَّةً مَحْمِـيَّةً مِنْ كلِّ فِتْنَةٍ وَمَرَضٍ وبَلِيَّةٍ واجعلنا من سعداء الدارين فى عافية وسلامة
ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار وأدخلنا الجنة مع الابرار ياعزيز ياغفار يا رب العالمين
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين والحمد لله رب العالمين
أمـين يا رب العا لمين.........

والسـلام عليكـم ورحـمة الله وبركـاته

Tidak ada komentar:

Posting Komentar