Rabu, 30 Januari 2019

Kesalahan Adab Sholat yang Sering Kita Lakukan



Adabus Sholat ialah akhlaq dalam sholat yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW baik pada pelaksanaan sholat munfarid (sendiri) atau sholat berjamaah.
Adabus sholat ini banyak diabaikan, padahal merupakan kesempurnaan dalam sholat, dan dapat mengurangi pahala berjamaahnya, bahkan bisa berakibat membatalkan sholatnya.
1. Memberitahukan Imam, karena kelupaan/kelewatan rukun sholat maka makmum yang paling terdepan, segera memberitahukan dengan mengucapkan bacaan “Subhanallah” satu kali, sampai dengan tiga kali, si Imam harus segera koreksi diri apa yang tertinggal dan langsung menyempurnakannya.
Bila diingatkan oleh “makmum” sampai dengan tiga kali si imam tidak juga menyadari, maka melanjutkan/membetulkan sendiri dan terus mengikuti imam selanjutnya.
Bila imam dalam bacaannya salah atau keliru, makmum wajib membetulkan dengan mengucapkan ayat yang salah atau keliru terhadap ayat yang keliru atau salah, oleh sebab itu sangat dianjurkan untuk shaf depan, terutama dibelakang imam adalah jamaah/makmum yang lebih tahu bacaan ayat – ayat Al – Qur’an (yang lebih a’lim) dari jamaah lainnya.
2. Bila surat yang dibaca oleh imam cukup panjang, padahal makmum ada yang ingin cepat/terburu – buru takut ketinggalan pesawat, kereta api atau keperluan yang sangat mendesak, makmum dapat mendahului gerakan/rukun – rukun yang dilakukan imam yakni makmum dapat melaksanakan sholat sendiri (munfarid), seperti halnya bila si makmum ketinggalan.Jamaah atau para makmum, harus selalu bersama dengan si imam (mengikutinya) secara tertib, tidak boleh mendahului. Makmum berkewajiban mengikuti bacaan – bacaan atau surat - surat yang dibaca imam, dengan seksama.
3. Bila dalam kebingungan atau keraguan sudah dibaca atau belum, ambil baca kembali fatihah – nya meskipun pada hakikatnya sudah baca fatihah dan suratnya, agar tetap ulangi kembali.
4. Batas jamaah yang masbuk/ketinggalan berjamaahnya dibatasi apabila makmum tidak dapat mengikuti pelaksanaan ruku’ yang dilakukan imam, makmum ketinggalan satu raka’at atau dua raka’at, maka yang membatasi adalah pelaksanaan ruku’.
5. Apabila imam sholat batal atau sakit ditengah pelaksanaan yang bisa merusak ke jamaahan atau batal, imam dapat mengundurkan diri, wajib bagi makmum yang di belakangnya segera ambil tindakan melangkah ke depan menggantikannya sebagai imam, untuk melanjutkan pelaksanaan jama’ahnya.
6. Jawaban bagi yang tengah melaksanakan sholat bila jamaah ada yang dipanggil dari luar yang bersangkutan sedang sholat sendirian (munfarid) atau mungkin berjamaah maka baginya wajib memperkeras bacaannya saat itu, (dikeraskan bacaannya), untuk memberikan tanda bahwa yang bersangkutan tengah menyelesaikan sholatnya.
7. Bila melaksanakan ruku terakhir, yakni salam menghadap kekanan dan kekiri ucapkan Assalamu’alaikum Warahmatulloh dengan suara yang sedikit keras dengan mamalingkan wajah ke arah kanan dan ucapkan Assalamu’alaikum Warahmatullah kembali sambil memalingkan wajah kearah kiri dengan suara pelan.
Namun pada pelaksanaan sholat jenazah pada takbir keempat, yakni memalingkan arah kekanan ucapan salamnya lengkap Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh demikian pula memalingkan kearah kiri dengan ucapan salamnya yang lengkap pula.
8. Pada raka’at ketiga pada sholat maghrib dan pada raka’at ketiga dan keempat pada sholat isya, imam membacakan bacaannya dengan suara pelan kitapun bacaannya tidak dinyaringkan harus pelan dan bila makmum mengeraskan suaranya (bacaannya) maka ia makruh, yakni tidak boleh dikeraskan/dinyaringkan.Yang utama jangan sampai mengganggu jama’ah/makmum yang lain.
9. Mengambil Raka’at yang jumlahnya sedikit bila Mussholi (orang yang tengah sholat) dalam keraguan jumlah raka’at yang sudah dikerjakan dua raka’at atau masih satu raka’at? Maka segera kerjakan/dirikan satu raka’at atau ragu sudah dikerjakan dua raka’at atau tiga raka’at, maka segera laksanakan dua raka’at dan begitu seterusnya.
10. Keadaan bilal (makmum membantu Imam mengeraskan suara).
Apa yang diucapkan imam boleh jadi suaranya sangat lembut/pelan padahal jama’ah cukup banyak, maka salah satu jama’ah boleh bertindak membantu menirukan suara imam dengan keras terutama pada setiap perpindahan satu rukun kerukun berikutnya.
Umpamanya pada takhbiratul ihram, imam mengucapkan Allahu Akbar, makmum dengan suara keras mengucapkan “Allahu Akbar” dan sebagainya.
Dan bagi makmum lainnya, sunnah mengucapkan dengan suara pelan Allahu Akbar. Demikian pula pada setiap penggatian satu rukun ke rukun berikutnya, ditirukan oleh makmum dengan suara pelan (tidak nyaring).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar