Rabu, 30 Januari 2019

Hukum Menafsirkan Al-Quran Tanpa Dalil



Membaca Alquran sungguh besar pahalanya sekalipun membacanya dengan kondisi terbata – bata dan tidak memahami maknayang terkandung didalamnya. Tilawah Alquran adalah salah satu sarana untuk mendekatkan diri, dan beribadah kepada Alloh , membaca dengan tartil bagi setiap muslim dan muslimat, fardhu ain hukumnya. Sebagaimana firman Alloh ,
Surat Al-Muzzammil Ayat 4
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Artinya: atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
Kepada kaum muslimin dan muslimat , yakinlah bahwa belajar Alquran itu mudah,memhami isi kandungannya, menghafalnya, dan mengamalkannya serta mengajarkannya. Alloh Subahanahu Watala berfirman
Surat Al-Qamar Ayat 17
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
( QS alqomar : 17 , 22,23,32, 40 ). Kemudahan itu tidak datang dengan sendirinya akan tetapi harus diperjuangkan dengan niat yang ikhlas dan ikhtiar yang maksimal.
Rasululloh Saw bersabda , “ Siapa saja yang menafsirkan /menakwilkan ayat Alquran dengabn akalnya sendiri, maka sesungguhnya dia telah menyiapkan tempat duduknya dari api neraka “.
Menurut Ibnu Abas r.a bahwa ayat-ayat Alquran harus dipahami dan ditakwilkan sesuai dengan ucapan maupun perbuatan Nabi Muhammad SAW, bukan dengan pendapat si penakwil sendiri , sebab Alquran memiliki makna lahiriyah yang luas , juga makna batiniyah yang sangat mendalam.
Sayidina Ali r.a pernah berkata bahwa Alloh SWT memberikan pemahaman lahiriyah maupun batiniyah tentang makna Alquran kepada hamba-Nya yang dikehendaki saja.
Rasulululloh SAW bersabda “ Sesungguhnya Alquran itu memiliki makna lahiriyah ( terbuka ) dan sekaligus makna bathiniyah ( tersembunyi ), mempunya batas serta permulaan . Sayyidina Ali r.a mengatakan , menganalogikan bahwa makna atau tafsir surat Alfatihah saja tidak akan sanggup dibebankan kepada 70 ekor onta untuk dipikul secara bersama-sama .
Sebagian ulama mengatakan bahwa “ setiap ayat dari Alquran memiliki sekitar 60.000 makna bahkan hingga 77.200 ilmu .Sebab setiap perkataan memiliki makna lahiriyah dan bathiniah,serta mempunyai makna yang lebih baik. Suatu ketika Rasululloh SAW pernah mengulangi bacaan ‘ Bismillahirromanirohimsebanyak 20 kali,hal ini semata-mata untuk menghayati pengertia bathiniyahnya.
Sayyidin Ali r.a pernah mengatakan “ Jika aku menafsirkan Alquran dengan pikiranku sendiri , maka bumi mana yang akan melindungiku, dan langit mana yang akan menaungiku. Larangan menafsirkan Alquran dengan pendapat sendiri ini mempunya dua pengertian. Yang pertama agar para mufassir selalu membatasi diri pada tafsir dan hadits Nabi yang shohih, dan tidak mencari makna-makna baru. Yang kedua , bahwa seorang mufassir tidak dapat menafsirkan Alquran kecuali berdasarkan standar-standar tafsir.
Orang yang mengatakan bahwa ia telah menguasai rahasia ( makna bathiniyah ) Alquran tanpa terlebih dahulu menjadi ahli tentang makna lahiriyah laksana orang berkata bahwa dirinya memasuki rumah sebelum membuka pintunya .
Mempelajari makna lahiriyah Alquran seperti mempelajari bahasa , dimana ia merupakan kunci untuk membuka / memahami makna-makna batiniyah yang dikandungnya.
Selanjutnya untuk menemukan makna dan pengertian bathiniyah dari suatu ayat alquran ,penafsiran saja belum cukup. Sebab harus juga menyertakan hadis Rasullulah , ,atsar,dan riwayat para sahabat yang terpercaya. Sebenarnya setiap ayat-ayat Alquran itu memiliki hakikat masing – masing. Dan hakikat itu terbuka serta terang benderang terlihat bagi orang-orang yang ilmunya mendalam, juga bagi orang yang kalbunya suci dari kotoran fikiran maupun gagasan yang menyesatkan. Oleh kaena itu penafsiran lahiriyah saja sungguh tidak cukup untuk memhami ayat- ayat alquran .
Sumber : kitab ihya ulumuddin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar