Rabu, 30 Januari 2019

Hikmah Haji dan Qurban dalam Membangun Kembali Aqidah, Akhlak dan Solidaritas Umat

Maret 18, 2016 

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah,
Pada pagi hari yang penuh rahmat dan berkah ini, kita umat Islam berkumpul dihalaman Masjid Jami Baitu Sidqi untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Bersama-sama kita melakukan ruku’ dan sujud yang diawali dengan takbir, tahmid, dan tasbih mengagungkan Asma Allah, sebagai wujud ketaatan, ketundukan dan kepasrahan kepada Allah SWT.
Alunan takbir dan tahmid kita gemakan, sebagai pernyataan dan pengakuan atas kemaha agungan Allah SWT. Takbir dan tahmid yang kita kumandangkan, adalah pengakuan, kesaksian, bahwa tidak ada yang pantas ditaati, tidak ada yang pantas disembah, kecuali Allah SWT. Oleh karena itu, melalui mimbar ini, saya mengajak kepada diri saya sendiri dan juga kepada hadirin sekalian; Mari kita sempurnakan ketawqaan kita kepada Alloh SWT. Mari tundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan Allah Yang Maha Besar. Campakkan jauh-jauh sifat keangkuhan, dan kesombongan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Apapun pangkat dan kebesaran yang kita sandang, sesungguhnya kita kecil di hadapan Allah, betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh kita di depan manusia, sungguh tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah,
Takbir, tahlil dan tahmid kembali menggema di seluruh muka bumi ini sekaligus menyertai saudara-saudara kita yang datang memenuhi panggilan Allah SWT. Menunaikan ibadah haji sebuah perjalanan jihad fi sabilillah ke tanah suci Mekah Al-Mukaromah untuk menyempurnakn rukun Islam yang kelima.
Mereka yang menunaikan haji dengan penuh semangat dan kekhusyukan melantunkan kalimat tauhid yang berulang ulang:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لا شَرِيكَ لَكَ
Kami penuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagimu

Bersamaan dengan ibadah yang mereka laksanakan di kota suci Mekah, di sini kita kaum muslimin pun melaksanakan ibadah yang terkait dengan ibadah mereka, yaitu puasa arafah, penyembelihan hewan qurban, setelah shalat Idul Adha ini dan terus menggemakan takbir, tahlil dan tahmid selama hari tasyrik. Apa yang dilakukan saudara-saudara kita di sana dan disini itu maksudnya sama yaitu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt.
Ibadah haji dan Qurban tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarh hidup Nabi Ibrahim As,dengan keluarganya, maka beliau dijuluki sebagai Bapak para nabi, yang meletakan dasar-dasar keimanan dan katauhidan yang lurus karenanya sebagai teladan para Nabi, termasuk Nabi Muhammad saw. Perenungan terhadap fenomena alam dan pencarian terhadap zat Yang Maha Kuasa akhirnya sampai pada kebenaran yang haqiqi yaitu Allah SWT.

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah,
Ketika kita mengenang kembali perjalanan Nabiyullah Ibrahim AS, setidaknya ada tiga hal yang dapat kita ambil hikmahnya dari peristiwa haji dan Qurban dalam merekonstruksi keimanan dan katauhidan umat manusia dalam menjalankan agamanya. Sehingga penyeimpangan dan penyesatan dari kelompak mana saja dapat diluruskan kembali.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (Al-Bayinah : 5)

Pertama, Rekonstruksi kekuatan aqidah, iman atau tauhid kepada Allah swt. Nabi Ibrahim as telah mencontohkan kepada kita bagaimana aqidah begitu melekat pada jiwanya sehingga ia berlepas diri dari siapa saja dan dari segala jenis kemusyrikan, termasuk orang tuanya yang tidak mau bertauhid kepada Allah SWT. sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali." (Al-Mumtahanah : 4)
Salah satu dampak positif dari aqidah yang kuat akan membuat seorang mukmin memiliki prinsip yang tegas dalam setiap keadaan, dia tidak lupa diri pada saat senang, baik senang karena harta, jabatan, popularitas, pengikut yang banyak maupun kekuatan jasmani dan ia pun tidak putus asa pada saat mengalami penderitaan, baik karena sakit, bencana alam, kekurangan harta maupun berbagai ancaman yang tidak menyenangkan, inilah yang membuatnya menjadi manusia yang mengagumkan, Rasulullah saw bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ اِنَّ اَمْرَهُ كُلَّهُ لَخَيْرٌ وَلَيْسَ ذَالِكَ ِلأَحَدٍ اِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ ِانْ اَصَبَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَاِنْ

اَصَبَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya baik baginya dan tidak ada yang demikian itu bagi seseorang selain bagi seorang mukmin. Kalau ia memperoleh kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya. Kalau ia tertimpa kesusahan, ia sabar dan itu baik baginya (HR. Ahmad dan Muslim).
Ibadah qurban mengajarkan ketulusan dan kepatuhan kepada Allah dalam segala amal dan perbuatan. Seberat apapun perintah Allah akan dikerjakan dengan patuh dan taat, tidak ada tawar-menawar, apalagi menolaknya. Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, serta Siti Hajar, telah membuktikan aktualisasi tauhid yang sangat jelas bagi umat ini. Keyakinan yang mendalam bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik bagi hamba-Nya, dan harapan yang kuat bahwa janji Allah pasti akan direalisasikan, bahwa Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya telah menguatkan hati mereka untuk melakukan pengorbanan yang sangat mahal.
Cinta mereka kepada anak dan keluarga, tidak menghalanginya untuk taat pada perintah Allah SWT, kesulitan hidup yang mereka alami tidak mengahalanginya untuk mensyukuri nikmat Allah, godaan yang datang dari semua arah tidak membuatnya sedikitpun bergeser menyimpang dari perintah Allah. Konsistensi dan keteguhan iman inilah yang mengantarkan mereka mendapatkan penghargaan dan ditempatkan dalam posisi terhormat di antara umat manusia.

120. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif[843]. dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),

121. (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.
122. dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. dan Sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar Termasuk orang-orang yang saleh.



Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah,
Yang Kedua, Ketika kita mengenang kembali syariat Nabiyullah Ibrahim AS, hikmah yang bisa kita ambil adalah Rekonstruksi Akhlaq.
Kondisi akhlaq masyarakat kita sekarang kita akui masih amat memprihatinkan, bila ini terus berlangsung, cepat atau lambat bukan hanya diri dan keluarga yang hancur, akan tetapi juga umat dan bangsa.
Akhlaq mulia tercermin dari jawaban Ismail as yang meskipun begitu siap untuk melaksanakan perintah Allah swt. berupa penyembelihan dirinya, namun ia tidak mengklaim dirinya sebagai orang yang paling baik atau paling sabar, tapi ia merasa hanyalah bagian dari orang-orang yang sabar karena generasi terdahulu juga sudah banyak yang sabar, Allah swt menceritakan masalah ini dalam firman-Nya:
102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".Ash-Shafat : 102
Karena buah dari kesabarannya yang dilandasi akhlaq mulia, Alloh SWT, mengganti Ismail AS dengan seekor domba, sehingga umat Islam disyariatkan untuk melakukan ibadah qurban, yakni memotong binatang ternak, baik kambing, sapi, atau unta, untuk dibagikan kepada sesama, sebagai ketegasan sikap, bahwa kesempurnaan keIslaman kita, tidak hanya terletak pada kualitas ketulusan penghambaan kepada Alloh, tetapi juga kerelaan berbagi kapada sesama.
Akhirnya, semoga Alloh SWT membukakan hati kita, hati saudara kita, hati para pemimpin kita, untuk meresapi makna perjuangan dan pengorbanan untuk menciptakan kesejahteraan bagi sesama, sehingga cita-cita untuk mewujudkan negeri yang adil dalam kemakmuran, dan makmur dalam keadilan dapat tercapai.
Pengorbanan demi pengorbanan yang ditunjukkan Nabiyullah Ibrahim AS beserta keluarganya, adalah teladan paripurna atas tumbuhnya ketulusan yang mendalam, serta totalitas kepasrahan akan kemahakuasaan Robbul Jalil, menjadi titian sejarah yang tak pernah lekang oleh zaman, tercatat dengan pena emas dalam lembar sejarah kehidupan manusia.
اللهُ اَكْبَرْ (×3)لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah,

Yang Ketiga, Ketika kita mengenang kembali syariat Nabiyullah Ibrahim AS, hikmah yang bisa kita ambil adalah Rekonstruksi Solidaritas social.
Dalam ibadah haji, kaum muslimin dari seluruh dunia dengan berbagai latar belakang yang berbeda bisa bertemu, berkumpul dan beribadah di tempat yang sama, bahkan dengan pakaian yang sama. Ini semua seharusnya sudah cukup untuk memberi pelajaran betapa persaudaraan antar sesama kaum muslimin memang harus kita bangun. Bila ukhuwah Islamiyah terwujud dalam kehidupan kita, maka sebagai umat kita punya kekuatan dan kewibawaan, berbagai persoalan umat bisa dipecahkan, kualitas umat bisa diperbaiki dan ditingkatkan serta musuh-musuh Islam bisa dihadapi, bahkan mereka akan takut melihat kekuatan umat yang luar biasa. Tapi karena ukhuwah umat belum terwujud, maka jadilah umat ini seperti buih di tengah lautan yang terus mengikuti ke mana beriaknya ombak bukan seperti karang yang memecahkan ombak. Karena itu peribadatan dalam Islam pada hakikatnya menyadarkan setiap muslim dan muslimah sebagai bagian dari umat Islam sedunia dan merupakan salah satu anggota masyarakat Islam sedunia yang tidak boleh berlepas diri dari persoalan-persoalan dunia Islam. Begitulah yang kita peroleh dari ibadah shalat, zakat, puasa dan apalagi haji.
Dalam konteks kehidupan kita sekarang, mungkin saja kita berbeda-beda suku dan bangsa, organisasi sosial dan politik, bahkan dalam kelompok-kelompok aliran atau pemahaman keagamaan, tapi semua itu seharusnya tidak membuat kita menjadi begitu fanatik lalu merasa benar sendiri dan menganggap kelompok lain sebagai kelompok yang salah. Harus kita ingat bahwa ukhuwah merupakan bukti keimanan dan bila ini belum kita wujudkan pertanda lemahnya keimanan yang kita miliki, Allah swt berfirman:
10. orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.(QS. Al-Hujurat: 10)
Setiap orang bertanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan negara dan bangsa yang baik, namun para pemimpin dan pejabat harus lebih bertanggung jawab lagi. Karena itu, kita amat menyayangkan bila banyak orang mau jadi pejabat tapi tidak mampu mempertanggungjawabkannya, jangankan di hadapan Allah swt, di hadapan masyarakat saja sudah tidak mampu, inilah pemimpin yang amat menyesali jabatan kepemimpinannya, Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلْنِى؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِى ثُمَّ قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ: إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيْهَا
Abu Dzar RA berkata: Saya bertanya, Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memberiku jabatan? Maka Rasulullah menepukkan tangannya pada pundakku, lalu beliau bersabda: Hai Abu Dzar, sungguh kamu ini lemah, sedangkan jabatan adalah amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajibannya dalam jabatannya (HR. Muslim)
اللهُ اَكْبَرْ (×3)لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah,
Solidaritas dan soliditas sosial begitu kuat bagi umat ini ketika pelaksanaan haji. Perhatian dan empati kepada sesama datang dari semua arah dan sisi. Satu fakta yang menegaskan bahwa harmoni kehidupan itu dalam solidaritas dan soliditas yang tidak membedakan suku, ras bangsa dan golongan. Inilah poin penting yang perlu kita garis bawahi, kepedulian kepada sesama, tidak melakukan perbuatan yang membuat celaka dan bahaya bagi orang lain.
Ketika menjadi pejabat ia berguna bagi rakyatnya, tidak melakukan perbuatan yang merugikan, korupsi untuk memperkaya diri sendiri , apalagi mendzaliminya. Kita merasa prihatin terhadap para pejabat negeri ini yang banyak melakukan tindak korupsi, padahal mereka mendapat gaji yang besar, semakin tinggi jabatan dan kedudukan semakin besar pula uang yang dikorupnya.
Ada tiga golongan manusia;
Yang pertama adalah golongan orang beruntung di dunia tetapi rugi diakhirat. Kelompok ini uang dan hartanya melimpah tetapi urusan ibadahnya kosong, di akhirat dia menjadi orang yang rugi karena akan menjadi penghuni neraka.
Yang kedua, orang yang rugi di dunia tetapi beruntung di akhirat. Golongan ini adalah orang yang hidupnya di dunia serba kekurangan akan tetapi ibadahnya rajin, maka dia akan penjadi penghuni sorga.
Yang ketiga, orang yang beruntung di dunia dan beruntung pula di akhirat, golongan ini adalah mereka yang hidupnya di dunia cukup selain itu mereka juga taat dan rajin beribadah maka mereka orang bahagia dunia dan akhirat. Semoga kita kaum muslimin yang hadir dalam shalat idul adha termasuk kelompok yang ketiga, yaitu beruntung dunia dan akirat. Akhirnya, Marilah kita rekonstruksi Hikmah Haji dan Qurban ini dalam memperperkuat akidah kita, akhlaq kita, solidaritas kita dalam membangun kembali umat dan bangsa kita. . Hubungan yang dibangun di atas landasan iman dan taqwa, dihiasi dengan akhlak mulia yang tertuang dalam pola saling menghargai dan menghormati, memahami perbedaan sebagai sebuah kenyataan, tidak untuk dibenturkan tetapi keniscayaan yang harus diterima dan dikelola dengan sebaik-baiknya. Demikian khutbah idul adha kali ini, semoga Allah SWT melunakkan hati kita untuk menerima hidayah dan syariahnya, melunakkan hati kita untuk lebih peduli kepada sesama. Amin ya Rabbal Aalamiin.

Marilah kita akhiri khutah ini dengan memanjatkan doa kehadirat Allah SWT.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. والحمد لله رب العالمين
الله اكبر الله اكبر الله اكبر وللحمد
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Tidak ada komentar:

Posting Komentar