Rabu, 30 Januari 2019

Belajar Ikhlas

Februari 1, 2016 

Yang diterima disisi Allah SWT adalah perbuatan yang Ikhlas, betapa sulitnya untuk berbuat ikhlas, namun kita harus berusaha bekerja, berbuat ikhlas karena Allah semata.
apapun yang kita lakukan, dari mulai niat dan sampai dengan pelaksanaan, apa yang akan diperbuat harus karena Allah semata.
Hadits riwayat Abu Dawud Rasul Allah bersabda :
Artinya :
“Barang siapa yang memberi sesuatu karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan menikah karena Allah maka sempurnalah imannya” (HR. Abu Dawud)
Ikhlas merupakan pangkal keberhasilan, pada dirinya tiada beban karena apa – apa yang dikerjakannya semata – mata karena Allah, tidak ada pamrih, tidak mengharapkan pujian, sanjungan dari siapapun.
Yang penting utama dan pertama harus dikerjakan perbuatan tersebut dengan kesungguhan, tidak asal – asalan dan niatnya karena Allah.
Amal tersebut baik berhasil, atau kurang berhasil, dari sisi agama tetap dinilai ibadah dan berpahala karena pangkalnya niat ikhlas. Bila berhasil sesuai tujuan maka baginya mendapat dua pahala.
Bila kurang berhasil atau tidak berhasil baginya mendapatkan satu pahala. Hadits ucapan Rasul Allah SAW yang cukup panjang, dan yang tertera disini ujungnya dari hadits tersebut : Artinya :
“Setiap segala sesuatu perbuatan itu harus selalu diiringi dengan niat, dan segala sesuatu itu tergantung bagaimana niatnya.”
Dan niat itu pangkal keberhasilan yang diawali dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim.
Agar langkah demi langkah dalam melaksanakan pekerjaan atau tugas memiliki nilai – nilai ibadah dan pahala, minimal 5 (lima) syarat ada yang harus dipenuhi dan dilaksanakan yaitu:
1. Niat ibadah semata – mata karena Allah
2. Dilaksanakan pekerjaan tersebut dengan penuh kesungguhan, sesuai dengan aturan – aturan yang telah ditetapkan dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim
3. Selalu fokus
4. Sesuai harapan/tujuan yang ditetapkan
5. Berdo’a dan bertawakal kepada Allah SWT
(diakhiri pekerjaan dengan ucapan Al – Hamdulillah).
Hadits Riwayat Attabrani dan Rasul Allah SAW bersabda : Artinya :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak memandang postur tubuhmu dan tidak pula pada kedudukan maupun harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu (kebersihan dan ketulusan hatimu)”
“Barang siapa yang memiliki hati yang sholeh maka Allah menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertaqwa.”
Hati atau Qalbu, perlu dipelihara, dibersihkan dan dibiasakan dengan mengucapkan kalimat – kalimat mahmudah agar tetap berfungsi dan berperan agar memproyeksikan hal – hal yang hasanat pula. Hatinya bersih pasti ucapannya bersih dan pasti amal – amal perbuatannya pula bersih.
Kalimat – kalimat mahmudah (terpuji yang dianjurkan agama antara lain :
Subhanallah wal – hamdulillah walaa ila haillallah Allah Akbar, astagfirullah hal adzim dst…
Allah berfirman dalam surat Al A’la : 14 – 19
Surat Al-A’la Ayat 14
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),”
Surat Al-A’la Ayat 15
وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ
“dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.”
Surat Al-A’la Ayat 16
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.”
Surat Al-A’la Ayat 17
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”
Surat Al-A’la Ayat 18
إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ
“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,”
Surat Al-A’la Ayat 19
صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ
“(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar